<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739</id><updated>2011-04-21T12:28:58.268-07:00</updated><title type='text'>dhammapada atthakatha bab2</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-1477225084526566740</id><published>2008-08-19T19:33:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:34:48.392-07:00</updated><title type='text'>Syair 31 (II:9. Kisah Nigamavasitissa)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCowC1hAI/AAAAAAAAAI4/x7X1rkwirKk/s1600-h/da02_012.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCowC1hAI/AAAAAAAAAI4/x7X1rkwirKk/s320/da02_012.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236422628351509506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu dia hidup dengan sederhana, dengan mempunyai hanya sedikit keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat saudaranya tinggal dan mengambil apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa selalu melewatkan kesempatan menerima banyak dana makanan lainnya. Meski ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu, Nigamavasitissa tidak mau pergi ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal tersebut. Bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak mempedulikan orang lain seperti Anathapindika dan Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan dana makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa memang benar ia sering mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta. Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan dia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha tidak menegur setelah mendengar penjelasan bhikkhu Nigamavatissa bahkan Beliau menghargai tindakannya dan menceritakannya kepada bhikkhu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bahkan menganjurkan kepada murid-muridnya, untuk hidup puas dengan sedikit keinginan, sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya, mencontoh tindakan bhikkhu Tissa dari kota dagang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan ini, Beliau menceritakan kisah Raja dari burung nuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lobang sebuah pohon besar yang tumbuh di muara sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lobang tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang masih tersisa di pohon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakka, mengetahui hal ini dan ingin menguji ketulusan hati raja nuri tesebut. Sakka pergi ke pohon tersebut dengan kekuatan supranaturalnya. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya, Sujata, mengunjungi tempat di mana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak meninggalkan pohon tua tersebut seperti yang telah dilakukan nuri lain; mencari pohon lain yang berbuah lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja nuri menjawab,"Karena perasaan terima kasih kepada pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya dan selama aku masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari Sungai Gangga dan menyiramkannya di sekitar pohon tersebut. Segera pohon itu menjadi segar kembali; tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, penuh dengan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat bijaksana meskipun seekor binatang tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 32 berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu nibbana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-1477225084526566740?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/1477225084526566740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=1477225084526566740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/1477225084526566740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/1477225084526566740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-31-ii9-kisah-nigamavasitissa.html' title='Syair 31 (II:9. Kisah Nigamavasitissa)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCowC1hAI/AAAAAAAAAI4/x7X1rkwirKk/s72-c/da02_012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-6227531133449203336</id><published>2008-08-19T19:32:00.002-07:00</published><updated>2008-08-19T19:33:33.521-07:00</updated><title type='text'>Syair 31 (II:8. Kisah Seorang Bhikkhu)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCc_0U_NI/AAAAAAAAAIw/X8lX7yUzDTI/s1600-h/da02_011.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCc_0U_NI/AAAAAAAAAIw/X8lX7yUzDTI/s320/da02_011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236422426427194578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Seorang bhikkhu, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh dia hanya memperoleh kemajuan yang sangat kecil. Akibatnya, ia menjadi frustasi. Dengan berpikir akan memperoleh petunjuk dari Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, dia melewati nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju puncak gunung dan mencari dari mana api tersebut datang. Melihat api yang membakar itu, ia termenung. Pikirnya, seperti api yang membakar habis semuanya, begitu juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari Kamar Harum (Gandhakuti) di Vihara Jetavana, Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh bhikkhu tersebut. Beliau menampakkan diri dan berkata,"Anak-Ku, engkau berada di jalan pikiran yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ertahankanlah! Semua makhluk harus membakar belenggu kehidupannya dengan pandangan terang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 31 berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan akan maju terus, membakar semua rintangan batin, bagaikan api membakar kayu baik yang besar maupun yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhikkhu tersebut berhasil mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma berakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-6227531133449203336?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/6227531133449203336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=6227531133449203336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/6227531133449203336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/6227531133449203336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-31-ii8-kisah-seorang-bhikkhu.html' title='Syair 31 (II:8. Kisah Seorang Bhikkhu)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCc_0U_NI/AAAAAAAAAIw/X8lX7yUzDTI/s72-c/da02_011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-1257262907635740671</id><published>2008-08-19T19:32:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:32:52.589-07:00</updated><title type='text'>Syair 30 (II:7. Kisah Magha)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCTAyIdQI/AAAAAAAAAIo/muY2I00YiF0/s1600-h/da02_010.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCTAyIdQI/AAAAAAAAAIo/muY2I00YiF0/s320/da02_010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236422254887728386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Suttanta. Sang Buddha menceritakan tentang Sakka yang selalu bersemangat. Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung. Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha menjawab, "Mahali, Aku mengenal Sakka; Aku juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi Sakka." Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, raja para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda yang bernama Magha, tinggal di desa Macala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Magha dan tiga puluh dua temannya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban. Tujuh kewajiban tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.dia akan merawat kedua orang tuanya;&lt;br /&gt;2.dia akan menghormati orang yang lebih tua;&lt;br /&gt;3.dia akan berkata sopan;&lt;br /&gt;4.dia akan menghindari membicarakan orang lain;&lt;br /&gt;5.dia tidak akan menjadi orang kikir, dia akan menjadi orang yang murah hati;&lt;br /&gt;6.dia akan berkata jujur; dan&lt;br /&gt;7.dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampau Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 30 berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyempurnakan kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa. Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu dicela.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-1257262907635740671?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/1257262907635740671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=1257262907635740671' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/1257262907635740671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/1257262907635740671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-30-ii7-kisah-magha.html' title='Syair 30 (II:7. Kisah Magha)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCTAyIdQI/AAAAAAAAAIo/muY2I00YiF0/s72-c/da02_010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-4188627080406317164</id><published>2008-08-19T19:31:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:32:17.099-07:00</updated><title type='text'>Syair 29 (II:6. Kisah Dua Bhikkhu Yang Bersahabat)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCFmgQBwI/AAAAAAAAAIg/06W8RD4OBk4/s1600-h/da02_009.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCFmgQBwI/AAAAAAAAAIg/06W8RD4OBk4/s320/da02_009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236422024495105794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dua orang    bhikkhu, setelah memperoleh suatu obyek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke    vihara yang letaknya di dalam hutan. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Salah satu dari    mereka lengah, dia menghabiskan waktunya untuk menghangatkan tubuh dengan api    dan berbicara pada waktu-malam pertama, dan ini menghabiskan waktunya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu yang lain    dengan rajin mengerjakan tugasnya sebagai bhikkhu. Dia berjalan sambil bermeditasi    selama waktu-malam pertama, beristirahat selama waktu-malam kedua dan bermeditasi    lagi pada waktu-malam terakhir sepanjang malam. Kemudian, karena rajin dan selalu    waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada akhir masa    vassa keduanya pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana    mereka menghabiskan waktu selama bervassa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu pemalas    dan lengah menjawab bahwa bhikkhu yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan    berbaring dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, "Bagaimana dengan kamu sendiri    ?" Jawabannya bahwa dia selalu duduk menghangatkan tubuh dengan api pada waktu-malam    pertama dan kemudian duduk tanpa tidur. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Tetapi Sang Buddha    mengetahui dengan baik bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu,    maka Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, "Meskipun kamu malas dan lengah    kamu mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada; tetapi kamu telah mengatakan    bahwa bhikkhu yang lain kelihatan malas dan lengah meskipun dia rajin dan selalu    waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan dengan    anak-Ku yang seperti kuda yang kuat dan tangkas." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 29 berikut ini: &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Waspada di antara    yang lengah, berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus,    bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.    &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-4188627080406317164?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/4188627080406317164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=4188627080406317164' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/4188627080406317164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/4188627080406317164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-29-ii6-kisah-dua-bhikkhu-yang.html' title='Syair 29 (II:6. Kisah Dua Bhikkhu Yang Bersahabat)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuCFmgQBwI/AAAAAAAAAIg/06W8RD4OBk4/s72-c/da02_009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-690826074920124933</id><published>2008-08-19T19:30:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:31:26.103-07:00</updated><title type='text'>Syair 28 (II:5. Kisah Mahakassapa Thera)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuB6LxJLxI/AAAAAAAAAIY/mi3pIz28IlQ/s1600-h/da02_008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuB6LxJLxI/AAAAAAAAAIY/mi3pIz28IlQ/s320/da02_008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236421828339642130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Suatu waktu    ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali, beliau menghabiskan waktunya    untuk mengembangkan kesadaran batin aloka kasina dan mencoba untuk memperoleh    kemampuan batin mata dewa, mengetahui siapa yang waspada dan siapa yang lengah,    juga siapa yang mati dan akan dilahirkan. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sang Buddha, dari    vihara, mengetahui melalui kemampuan batin mata dewa Beliau, apa yang dikerjakan    oleh Mahakassapa Thera dan ingin mengingatkan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah    menghabiskan waktu. Maka Beliau menampakkan diri di depan thera tersebut dan    berkata, "Anakku Kassapa, jumlah kelahiran dan kematian makhluk hidup tak terhitung    dan tak dapat dihitung. Hal ini bukan tugasmu; hal ini adalah tugas para Buddha."    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 28 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bilamana    orang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka ia akan    bebas dari kesedihan, seakan memanjat menara kebijaksanaan dan memandang orang-orang    yang menderita di sekelilingnya, seperti seseorang yang berdiri di atas gunung    memandang mereka yang berada di bawah.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-690826074920124933?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/690826074920124933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=690826074920124933' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/690826074920124933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/690826074920124933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-28-ii5-kisah-mahakassapa-thera.html' title='Syair 28 (II:5. Kisah Mahakassapa Thera)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuB6LxJLxI/AAAAAAAAAIY/mi3pIz28IlQ/s72-c/da02_008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-3318478292422005126</id><published>2008-08-19T19:29:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:30:08.488-07:00</updated><title type='text'>Syair 25 (II-3. Kisah Culapanthaka)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBmnVNoAI/AAAAAAAAAIQ/1HpdZ31PLB8/s1600-h/da02_005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBmnVNoAI/AAAAAAAAAIQ/1HpdZ31PLB8/s320/da02_005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236421492141301762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan akan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata "Rajoharanam", yang berarti "kotor". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan "Rajoharanam". Berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang dan berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan supranaturalnya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya tebuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki ‘Pandangan Terang Analitis? Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan supranatural. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, " Saya adalah Culapanthaka." Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian arahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-3318478292422005126?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/3318478292422005126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=3318478292422005126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/3318478292422005126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/3318478292422005126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-25-ii-3-kisah-culapanthaka.html' title='Syair 25 (II-3. Kisah Culapanthaka)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBmnVNoAI/AAAAAAAAAIQ/1HpdZ31PLB8/s72-c/da02_005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-8890190289079666150</id><published>2008-08-19T19:28:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T19:29:16.417-07:00</updated><title type='text'>Syair 24 (II:2. Kisah Kumbhaghosaka, Seorang Bankir)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBcdhu0jI/AAAAAAAAAII/EPnkEnhUkog/s1600-h/da02_004.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBcdhu0jI/AAAAAAAAAII/EPnkEnhUkog/s320/da02_004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236421317710762546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua merasa akan mendekati ajal, mereka memerintahkan anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka, pergi dari rumah dan kembali lagi pada waktu yang lama, agar tidak ketularan. Mereka juga mengatakan kepada Kumbhaghosaka bahwa mereka telah mengubur harta sebesar 40 crore. Kumbhaghosaka pergi meninggalkan kota dan tinggal di hutan selama 12 tahun dan kemudian kembali lagi ke kota asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu, Kumbhaghosaka tumbuh menjadi seorang pemuda dan tidak seorangpun di kota yang mengenalinya. Dia pergi ke tempat di mana harta karun tersebut disembunyikan dan menemukannya masih dalam keadaan utuh. Tetapi dia menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengenalinya lagi. Jika dia menggali harta tersebut dan menggunakannya, masyarakat mungkin berpikir seorang lelaki miskin secara tidak sengaja telah menemukan harta karun dan mereka mungkin akan melaporkannya kepada Raja. Dalam kasus ini, hartanya akan disita dan dia sendiri mungkin akan ditangkap. Maka dia memutuskan untuk sementara waktu ini tidak menggali harta tersebut dan untuk sementara dia harus mencari pekerjaan untuk membiayai penghidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengenakan pakaian tua Kumbhaghosaka mencari pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan untuk membangu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-8890190289079666150?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/8890190289079666150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=8890190289079666150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/8890190289079666150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/8890190289079666150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-24-ii2-kisah-kumbhaghosaka.html' title='Syair 24 (II:2. Kisah Kumbhaghosaka, Seorang Bankir)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBcdhu0jI/AAAAAAAAAII/EPnkEnhUkog/s72-c/da02_004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4068513456473796739.post-7955258999376781995</id><published>2008-08-19T19:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T19:28:30.514-07:00</updated><title type='text'>Syair 21-23 (II:1. Kisah Samavati.)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBHqNdXvI/AAAAAAAAAIA/zb9ODuOqM-g/s1600-h/da02_001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBHqNdXvI/AAAAAAAAAIA/zb9ODuOqM-g/s320/da02_001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236420960338140914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kerajaan    Kosambi waktu itu diperintah oleh Raja Udena dengan permaisurinya Ratu Samavati.    &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ratu Samavati    mempunyai 500 orang pengiring yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai    pelayan kepercayaan, Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli    bunga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari terlihat    Khujjuttara sedang menanti tukang bunga langganannya, Sumana. Tetapi yang dinantinya    tak kunjung datang, sedang hari semakin siang. Bergegas ia ke rumah Sumana dengan    maksud untuk membelinya di sana. Setibanya di sana, Sumana kelihatannya sedang    repot menjamu tamu-tamunya, yaitu para bhikkhu. Dengan menggerutu terpaksa Khujjuttara    menunggu sampai perjamuan itu selesai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Selesai perjamuan,    Khujjuttara melihat seorang bhikkhu yang berwajah cerah dan agung mulai berkhotbah.    Para bhikkhu lainnya, Sumana, dan kerabatnya, tampak mengelilinginya dan mendengarkan    dengan tekun dan penuh perhatian. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Aduh, bisa-bisa    aku kena marah kalau pulang nanti," keluh Khujjutara. "Apa boleh buat, terpaksa    aku harus menunggu lagi," keluhnya. "Ah, dari pada menganggur dan mengantuk,    apa salahnya aku juga ikut mendengarkan. Aku ingin tahu, apa yang dikhotbahkan,    sehingga semuanya mendengarkan dengan khidmad dan tidak mempedulikan kehadiranku    !" katanya dalam hati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Mula-mula Khujjuttara    hanya setengah-setengah mendengarkan. Tetapi, makin lama perhatiannya makin    tertarik, dan akhirnya malahan mendengarkan dengan tekun dan penuh perhatian.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Tak heran, karena    pengkhotbah itu adalah Sang Buddha sendiri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Khujjuttara baru    kali itu mempunyai kesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan    oleh Sang Buddha. Walaupun demikian, karena akibat kamma masa lampaunya, mata    batinnya mulai terbuka. Apa yang dikhotbahkan dapat dipahaminya dengan benar    dan sekaligus ia berhasil mencapai tingkat kesucian sotapatti. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pulang ke istana    ia telah ditunggu oleh Samavati dengan muka cemberut. "Kemana saja dan apa pula    kerjamu sehingga sesiang ini baru pulang ? Dan mana bunga yang seharusnya kau    beli ?" tegus Samavati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Setelah meminta    maaf, Khujjuttara menceriterakan apa yang barusan dialaminya. Samavati tertarik    mendengar pengalaman Khujjuttara dan memintanya agar sore nanti mengulangi khotbah    yang tadi didengarnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sore itu, Khujjuttara    mengulang khotbah Sang Buddha kepada Samavati dan 500 orang pengiringnya. Sama    halnya seperti Khujjuttara, Samavati beserta pengiringnya pada akhir khotbah    juga mencapai kesucian sotapatti. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Oh, Khujjuttara,    engkau beruntung sekali bisa mendengarkan khotbah yang seindah itu. Berkat engkau,    aku beserta yang lain-lainnya juga ikut menikmati keberuntungan itu !" kata    Samavati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Atas jasa-jasamu,    engkau kuangkat sebagai ibu angkat dan guruku !" lanjutnya. "Mulai hari ini    engkau kubebaskan dari segala kewajibanmu yang lain. Sayang, aku tak dapat keluar    istana. Maka untuk selanjutnya engkau berkewajiban untuk mendengarkan khotbah    Sang Buddha dan kemudian mengulangnya untuk didengar oleh semuanya." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Demikianlah, Khujjuttara    selalu mengikuti kemana Sang Buddha berkhotbah dan kemudian mengulangnya di    hadapan Samavati beserta para pengiringnya. Dalam waktu singkat Khujjuttara    berhasil memahami Dhamma yang diajarkan Sang Buddha dengan baik. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Lama kelamaan    Samavati dan pengiringnya sangat berharap dapat melihat Sang Buddha dan ingin    sekali memberi penghormatan kepada Beliau. Tetapi mereka takut jika raja tidak    berkenan. Dicarilah akal, bagaimana caranya agar mereka bisa melaksanakan maksudnya.    Salah satu pengiring Samavati menemukan cara, dengan membuat lobang-lobang pada    dinding-dinding di sekitar istana. Melalui lobang itu mereka dapat melihat keluar    dan memberi penghormatan kepada Sang Buddha setiap hari, saat Beliau akan mengunjungi    rumah tiga orang hartawan, bernama Ghosaka, Kukkuta, dan Pavariya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada waktu Raja    Udena memerintah, ada seorang brahmana mempunyai puteri yang sangat cantik,    Magandiya namanya. Karena kecantikan puterinya, ia selalu memilih-milih calon    suami anaknya. Dan selama itu dirasanya belum ada yang tepat untuk mendampingi    anaknya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari brahmin    itu bertemu muka dengan Sang Buddha. Ia sangat terpesona melihatnya dan berpikir    bahwa inilah satu-satunya orang yang pantas untuk menjadi suami puterinya yang    sangat cantik. Dicarinya tahu di mana Sang Buddha berdiam, kemudian bersama    dengan isteri dan puterinya ia ke sana dan meminta kepada Sang Buddha agar mau    menerima puterinya sebagai isteri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sang Buddha terdiam    sejenak. Dengan kekuatan supranatural-Nya diselidikilah brahmin anak beranak    itu. Beliau melihat bahwa brahmin itu dengan isterinya mempunyai kesempatan    yang sangat besar untuk mencapai kesucian anagami. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dengan tersenyum    Beliau menjawab, "Setelah melihat Tanha, Arati, dan Raga, putri-putri Mara,    Aku tidak lagi mempunyai keinginan seksual; semuanya hanya berisikan kotoran    dan air kencing dan aku tidak ingin menyentuhnya walaupun dengan ujung kakiku    sekali pun." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Mendengar kata-kata    Sang Buddha, brahmin itu dan istrinya terkejut. Mereka kemudian merenung, mengapa    permintaan baik-baik mereka dijawab seperti itu ? Akhirnya mata batin mereka    berdua terbuka, dan mereka menjadi paham dengan arti jawaban tadi. Keduanya    langsung mencapai tingkat kesucian anagami magga dan phala. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sepulangnya, mereka    berdua segera berunding. Berdua mereka ingin menjauhi kehidupan duniawi dan    bergabung dengan murid-murid Sang Buddha. Mereka juga bersetuju untuk menyerahkan    perawatan puteri mereka kepada saudara mereka. Kelak, karena ketekunannya mereka    berdua berhasil mencapai tingkat kesucian arahat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Alkisah, puteri    Magandiya yang juga mendengar jawaban Sang Buddha seperti tadi merasa sangat    terhina dan tersinggung. Apalagi setelah ayah bundanya akhirnya mengikuti Sang    Buddha dan menyerahkan perawatan dirinya kepada pamannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Wahai Samana    Gotama, setelah aku kau hina, kau rebut pula kedua orang tuaku. Sungguh keterlaluan    sikapmu padaku !" demikian kata hati puteri Magandiya. "Awas! Tunggulah pembalasanku    ! Kemana saja engkau pergi, pasti akan kucari dan kubalas penghinaanmu padaku    ! Sebelum dendamku terbalas, aku tidak akan berhenti!" ancamnya dalam hati.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Alkisah, beberapa    waktu kemudian pamannya menyerahkan Magandiya kepada Raja Udena. Karena Magandiya    memang cantik jelita, raja pun menerimanya sebagai salah satu isterinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu ketika Magandiya    mendengar kedatangan Sang Buddha di Kosambi dan bagaimana Samavati dan pengiringnya    memberi penghormatan kepada Beliau melalui lobang-lobang di sekitar istana.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Inilah waktunya    untuk membalas dendam !" pikirnya. Matanya berbinar-binar kegirangan. Segera    Magandiya merencanakan cara untuk membalas dendam kepada Sang Buddha dan mencelakakan    Samavati beserta pengiring yang sangat mengagumi Sang Buddha. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Paginya, Magandiya    segera menghadap raja. "Baginda, Samavati ingin berkhianat. Ia bersama pengiringnya    telah membuat lobang-lobang di dinding istana agar dapat berhubungan dengan    orang luar. Mungkin pula mereka telah mengatur pemberontakan !" katanya memanas-manasi    raja. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Raja terkejut    mendengar laporan itu. Ia segera turun ke lapangan untuk melihat sendiri kebenarannya.    Benar! Banyak lobang dibuat pada dinding istana. Dengan marah raja segera memanggil    Samavati. "Samavati, tak kusangka bahwa engkau sampai hati benar ingin berkhianat    kepadaku!" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Samavati melenggak    keheranan, "Baginda, mengapa Baginda sampai hati menuduh demikian ?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Untuk apa kaubuat    banyak lobang pada dinding istana? Bukankah untuk memudahkan berhubungan dengan    orang luar dan mengatur pemberontakan ?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Ampun Baginda,"    jawab Samavati. "Tiada setitikpun terbit ingatan untuk memberontak pada diri    hamba. Bahkan selama ini hamba sangat berterima kasih dapat hidup tanpa kekurangan    suatu apapun di istana ini." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Lalu, untuk apa    kaubuat lobang-lobang itu ?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Samavati segera    menceriterakan semuanya dengan bersungguh-sungguh. Raja dapat diyakinkan, sehingga    tidak menarik panjang urusan itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Melihat usahanya    untuk mengenyahkan Samavati tidak berhasil, Magandiya bertambah marah, tetapi    ia tidak putus asa. Ia tetap berusaha mencari jalan untuk membuat raja percaya    bahwa Samavati tidak setia kepada Raja dan telah berusaha untuk membunuhnya.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari, Magandiya    mendengar bahwa Raja akan mengunjungi Samavati dalam beberapa hari mendatang    dan akan membawa kecapinya. Magandiya memasukkan seekor ular ke dalam kecapi    tersebut dan menutupinya dengan seikat bunga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Magandiya mengikuti    Raja Udena ke tempat tinggal Samavati. Di perjalanan ia selalu mencoba mengurungkan    niat raja karena dia merasa tidak percaya kepada Samavati dan mengkhawatirkan    keselamatan raja. Tetapi raja tidak menghiraukannya. Sampai di kediaman Samavati,    tatkala tiada orang, Magandiya mencabut seikat bunga dari lubang kecapinya.    Ular itu keluar dan melingkar di atas tempat tidur. Ketika raja hendak mengambil    kecapinya dan melihat ular itu, baru beliau mempercayai kata-kata Magandiya    bahwa Samavati berusaha untuk membunuhnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Raja sangat marah.    Beliau memerintahkan Samavati untuk berdiri, dengan semua pengiringnya berbaris    di belakangnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Pengawal, ambil    busur dan anak panahku!" teriak raja. Tetapi Samavati dan pengiringnya tak gentar.    Mereka semua tetap berdiri sambil memancarkan cinta kasih kepada Raja. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Raja menarik busurnya    dengan anak panah yang telah dilumuri racun. Samavati dibidiknya baik-baik,    dan kemudian anak panah dilepaskan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dengan suara berdesir    anak panah itu melaju secepat kilat mendekati sasarannya, Samavati. Semua yang    melihat menahan napasnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ajaib, begitu    akan menyentuh Samavati anak panah itu kelihatan seolah-olah terpental, menyeleweng    arahnya, melewati Samavati dan para pengiringnya, dan akhirnya menghunjam ke    dinding di belakangnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Raja semakin murka,    dikiranya bidikannya meleset. Sekali lagi raja menarik busurnya dan Samavati    dibidiknya dengan lebih hati-hati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sekali lagi anak    panah itu seolah-olah mengenai perisai yang keras, menyeleweng arahnya dan menghunjam    lagi ke dinding. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Lagi, dan lagi    raja berusaha membidik Samavati maupun pengiringnya, tetapi kejadian seperti    tadi tetap berulang lagi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Raja tercenung    memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Seolah-olah Samavati dan pengiringnya    ada yang melindungi. Dan kalau benar demikian, niscaya Samavati tidak bersalah.    Maka kemarahannya mereda. Bahkan pada akhirnya ia memberi ijin kepada Samavati    untuk mengundang Sang Buddha dan murid-muridnya ke istana untuk menerima dana    makanan dan untuk menyampaikan khotbah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Magandiya menyadari    bahwa tidak satupun dari rencananya terlaksana. "Kalau Baginda tak mampu membunuh    Samavati, maka aku sendiri yang akan turun tangan membunuhnya!" pikirnya. Oleh    karenanya ia membuat rencana akhir, rencana yang sempurna. Magandiya mengirimkan    suatu pesan kepada pamannya dengan petunjuk-petunjuk lengkap untuk pergi ke    istana Samavati dan membakar istananya bersamaan dengan semua orang yang ada    di dalamnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika istana    tersebut terbakar, Samavati dan pengiringnya, yang berjumlah 500 orang, tetap    bermeditasi. Kemudian, beberapa dari mereka mencapai tingkat kesucian sakadagami    dan yang lain berhasil mencapai tingkat kesucian anagami. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Berita kebakaran    tersebut segera menyebar, Raja segera pergi ke tempat kejadian, tetapi beliau    terlambat. Beliau mencurigai bahwa hal ini dilakukan oleh Magandiya, tetapi    raja tidak menunjukkan kecurigaannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Untuk mengetahui    hal yang sebenarnya, beliau berkata, "Ketika Samavati masih hidup, saya selalu    khawatir kalau-kalau dia kan mencelakakan saya. Sekarang, pikiranku lebih tenang.    Siapa yang telah melakukan ini semua ? Hal ini pasti hanya dilakukan oleh seseorang    yang sangat mencintaiku." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Mendengar kata-kata    itu, Magandiya segera mengkui bahwa dia yang telah memerintahkan pamannya untuk    melakukan hal itu semua. Untuk hal itu, Raja sangat puas dan mengatakan bahwa    beliau akan memberikan penghargaan pada Magandiya dan seluruh keluarganya. Kemudian,    seluruh keluarga Magandiya diundang ke istana untuk menghadiri perjamuan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Magandiya, pamannya,    dan seluruh kerabatnya datang ke istana dengan gembira. Setelah mereka berkumpul    semua, raja segera berdiri dan berteriak, "Hei, para pengawal, tangkap mereka    semua !" Setelah semuanya ditangkap raja segera memerintahkan, "Masukkan mereka    semuanya ke dalam istana Magandiya. Jangan sampai ada yang lolos. Kemudian bakar    seluruh istana itu, seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap Samavati    !" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika Sang Buddha    mendengar dua kejadian tersebut, Beliau mengatakan bahwa seseorang yang waspada    tidak akan mati; tetapi mereka yang lengah akan merasa mati meskipun dia masih    hidup. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 21, 22, dan 23 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kewaspadaan adalah  jalan menuju kekekalan; kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada  tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;b&gt;Setelah    mengerti hal ini dengan jelas, orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan    dan bergembira dalam praktek para ariya. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt; Orang bijaksana    yang tekun bersamadhi, hidup bersemangat dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh,    pada akhirnya mencapai nibbana (kebebasan mutlak).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4068513456473796739-7955258999376781995?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/feeds/7955258999376781995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4068513456473796739&amp;postID=7955258999376781995' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/7955258999376781995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4068513456473796739/posts/default/7955258999376781995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab2.blogspot.com/2008/08/syair-21-23-ii1-kisah-samavati.html' title='Syair 21-23 (II:1. Kisah Samavati.)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKuBHqNdXvI/AAAAAAAAAIA/zb9ODuOqM-g/s72-c/da02_001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
